Bandung, 23 April 2018

Dua terdakwa pemilik biro umroh First Travel Annisa Hasibuan dan Andika Surachman menjalani sidang lanjutan dengan agenda pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri Depok, Senin siang (23/4). Dalam sidang yang dipimpin oleh hakim Sobandi tersebut, baik Andika dan Annisa sama-sama menyangkal telah melakukan penipuan kepada sejumlah calon jamaah umroh yang gagal diberangkatkan.

Menurut Andika, sebenarnya saat itu PT. First Travel sedang menyiapkan rencana keberangkatan dengan melakukan perjanjian dengan disaksikan pihak Kemenag dan Asosiasi Keberangkatan Umroh dan Haji.

"Direncanakan keberangkatan akan dijadwalkan bulan November. Pihak First Travel tidak mengingkari banyaknya kendala tapi dapat terselesaikan, sampai akhirnya media berperan dalam kekacauan ini yang menerangkan bahwa bisnis umroh yang kami jalankan adalah modus penipuan, semenjak banyaknya pemberitaan tersebut membuat perusahaan kami bermasalah," jelasnya.

Terdakwa mengaku hanya sering berkendala di visa saja tapi semua itu dapat diselesaikan. Dalam persidangan tersebut, terdakwa juga menjelaskan skema bisnis yang dijalankan. Menurutnya biaya promo untuk umroh sebesar Rp. 14,3 juta merupakan suatu bentuk promosi dari perusahaan, akan tetapi dengan adanya aturan dari Departemen Agama yang menetapkan minimal biaya umroh sebesar Rp. 20 juta, maka hal tersebut sangat berpengaruh kepada promosi perusahaan.

"Dengan biaya promo Rp. 14,3 juta, saya menyadari adanya kerugian dan rencananya untuk mengcover kerugian tersebut saya akan menaikkan harga dan membuka keberangkatan tahun 2018 seharga Rp. 16 juta, tunggakan ke Vendor dari tahun ke tahun sudah biasa dan dapat kami selesaikan, tapi berhubung izin operasional ditutup maka kita tidak bisa lagi menyelesaikannya," tuturnya.

Tidak berbeda dengan keterangan yang disampaikan oleh terdakwa Andika, terdakwa Annisa Surachman yang juga istri dari Andika mengaku menikmati hasil dari PT. First Travel seperti mobil, rumah, liburan dan usaha salon serta membelikan apartemen untuk teman perempuannya. Ia juga mengaku semua itu adalah hak dari gaji yang ia peroleh selama bekerja di PT. First Travel, di samping itu ada juga komisi sebesar 100 juta rupiah pertahun dan usaha sampingan dalam pembuatan paspor calon jama'ah yang dikenakan 600 ribu/paspor. (zM/gaF)